Tips Menghadapi Masalah Disintegrasi Keluarga


Secara antropologis, keluarga inti yang bisa juga dinamakan dengan keluarga batih secara normatif merupakan tempat asal muasal diri kita masing-masing. Keluarga inti secara normatif ini hanya terdiri dari ayah kandung, ibu kandung, hingga diri ini dan (beberapa) saudara kandung apabila ada. Secara normatif – lagi-lagi – keluarga inti ini seharusnya menjadi tempat berlindung bagi tiap anggota di dalamnya dari kejamnya masyarakat alias kondisi sosial budaya di luar atap rumah.

ilustrasi family flux

Namun, celakanya argumentasi di atas merupakan argumentasi normatif yang sesungguhnya secara faktual seringkali menyimpang. Itulah yang membuat keluarga inti sebagai unit terkecil di masyarakat tidak dapat melaksanakan fungsi normatifnya tersebut. Bahkan – sebaliknya – ia kerap menjadi masalah baru bagi tiap anggota di dalamnya. Akibatnya, anggota akan merasa menjadikan keluarga intinya sebagai stressor terbaru yang bahkan dapat lebih parah dibandingkan kehidupan stresnya di masyarakat. Berbagai perubahan yang ada di dalam keluarga selalu menjadi titik tolak stabilitas keluarga inti. Apabila perubahan tersebut berlangsung dengan baik, maka sesungguhnya tidak ada masalah. Namun demikian, apabila perubahan tersebut berlangsung dengan nuansa disintegratif, maka inilah yang menjadi masalah.

Ada tiga alasan minimal mengapa konflik di dalam keluarga inti itu dapat terjadi. Pertama, karena tiap-tiap anggota tidak dapat menerima dan memahami kelemahan hingga kelebihannya satu sama lain. Timbul ketidakpercayaan yang berlebih ketika ada sifat anggota yang menyebalkan. Terbesit pertanyaan yang tidak penting: mengapa orang yang paling dekat malah menjadi orang yang paling tidak kita percaya? Bahkan, juga acapkali timbul rasa dengki ketika ada yang ‘lebih berprestasi di mata keluarga’. Kedua, karena tidak adilnya distribusi sumber daya yang terjadi di keluarga. Sumber daya yang dimaksud lebih kepada rasa afeksi alias kasih sayang: celakanya, itu tidak dibagi-bagikan secara pantas. Ada sebutan anak bawang dan anak emas di dalam keluarga. Ketiga, adanya saling tabrak kepentingan satu sama lain. Sudah menjadi fitrah manusia ketika dirinya memiliki intensi pribadinya tersendiri. Namun, seringkali itu menjadi sumber konflik di keluarga intinya ketika intensi pribadinya tidak selaras dengan intensi pribadi tiap anggota lainnya. Si Ayah maunya begini, si ibu maunya begitu, eh si anak maunya begono….

Tips Pertama: Pahami Sifat Tiap Anggota Keluarga

Anggap saja bahwa ada satu contoh kasus pada keluarga inti ini berisikan ayah kandung, ibu kandung, serta tiga anak-anaknya: dua kakak perempuan dan satu anak laki-laki. Ayah kandung menjadi figur yang cuek, galak, namun pengertian kepada orang-orang yang bersifat baik. Ibu kandung menjadi orang tua yang bawel, selalu meminta untuk dimengerti, namun tidak pernah merasakan suatu beban apapun apabila anggota keluarga intinya meminta pertolongan kepadanya. Kakak sulung perempuan merupakan kakak yang pemalas, selalu mempunyai acara di luar rumah, tetapi juga selalu menjadi sosok penengah apabila adik-adiknya sedang berselisih. Kakak kedua perempuan menjadi kakak yang galak, suka iseng kepada adiknya, tetapi juga yang paling assertive alias paling berani memberikan pendapat. Akhirnya, si anak bontot menjadi figur anak muda yang jarang berpendapat karena selalu mengingat dan takut terhadap posisi termudanya, paling senang menyendiri di kamar, tetapi yang paling rajin belajar di keluarga intinya. Mari, dengan begini kita telah mengetahui SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat)-nya tiap anggota secara kecil-kecilan. Inilah yang menjadi tips pertama: ada baiknya, tiap keluarga memiliki catatan tersendiri mengenai SWOT tiap anggotanya.

Tips Kedua: Kenali Peluang Konflik dan Disintegrasi Lainnya dari SWOT

Saya lanjutkan lagi contoh kasus mengenai keluarga inti tersebut. Suatu kali, keluarga ini mengalami disintegrasi. “Ayah pelit banget, sih. Padahal kan kakak butuh uang jajan buat pergi pesta bareng teman!”, kata anak pertama ngedumel akibat ayahnya menolak memberikan uang sakunya. “Mentang-mentang udah dua puluh tahun usia nikah, terus kamu enggak peka lagi sama istrimu!?”, omel ibu kepada ayah. Ayah hanya membalas, “Kalian berdua ini kenapa, sih?”. Disintegrasi dalam keluarga inti tidak berhenti hingga di tahap itu. Kakak kedua memarahi adiknya, “Kamu ini kok diem aja di kamar melulu!”. Adiknya menjawab dengan gugup, “…. Adek ada PR, Kak… Urgen…”. Ya Allah, hidup dalam berkeluarga kok begini amat, ya? Tapi, bukankah itu merupakan tantangan keseharian kita, ya? Walaupun memang ceritanya tidak sama persis, namun bukankah dengan SWOT tersebut maka juga akan muncul peluang konflik dalam keluarga?

Tips Ketiga: Dirikan Forum Keluarga dengan Memahami SWOT Bersama-sama

Kemudian, untung saja keluarga inti ini masih memiliki catatan SWOT-nya. Kakak kedua lalu menyuruh adiknya, “Dek, catatan SWOT kita ke mana, ya?”. Adik itu lalu memberikannya. Ayah lalu meminta, “Tolong dibacain, Nak. Semuanya, tolong. Ayah minta kita bicarakan semua ini baik-baik, yuk.”. Setelah membacanya, kakak kedua berkata secara assertive, “Ooh, pantesan. Ayah sengaja membatasi uang jajan karena kakak sih yang kebanyakan nongkrong. Terus, emang udah gayanya Ayah yang kayak enggak peka, gitu!”. Ayah berkata, “Walaupun kelihatannya Ayah senang diam saja, kayak si adek. Tapi, dalam hati Ayah setia sama kalian!”. Ibu berkomentar, “Oh, jadi bukan karena Ayah udah enggak setia lagi kan, sama Ibu yang sudah tua ini (tertawa).”. Ayah membalas, “(tertawa) Kalau begitu, kenapa Ayah enggak minta cerai. Tidak. Ayah maunya setia. Kita kan sudah sampai sejauh ini. Dan kita harus terus melangkah sejauh-jauhnya, selama-lamanya.”. Kakak pertama lalu menimpal, “Ini, catatan SWOT sama analisisnya sudah disiapkan sama si adek. Hebat, lho! Ayah jadi bisa kan jelasin ke kita semua. Oh iya, Dear Ayah. Iya, kakak minta maaf. Mulai saat ini, Kakak perlu membatasi kegiatan nongkrong di luar rumah.”. Kakak kedua membentak dengan suara tinggi, “Udah tahu pinter, kok diem aja sih, Dek!”. Kakak pertama lantas menjawab, “Nah. Karena kamu banyak membentak Adek, makanya Adek enggak bisa assertive.”. Satu keluarga inti inipun menghela napas berbarengan. Tidak lama kemudian, mereka melepaskan tawanya bersama-sama. Ibu lalu berkata, “Kita semua punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Yang penting, gimana caranya biar kita bisa tetap punya saling pengertian satu sama lain.”.

Simpulan: Integrasi alias Saling Pengertian

Itulah yang menjadi maksud utama mengapa konflik itu harus cepat-cepat diredam. Karena, manusia sendiripun tidak tahan untuk lama-lama berkonflik. Ia sendiri bahkan tidak menyukai konflik: namun, mengapa ia sendiri malah menjadi subjek penghadir konflik? Perlu diketahui bahwa meredam konflik di dalam keluarga merupakan latihan awal diri kita untuk meredam konflik suatu saat di dalam masyarakat. Tentu, cerita kasus tadi tidaklah serumit yang kita alami. Namun, kita juga harus siap menjadi subjek peredam konflik! Sebagai penutup, selalu jadikan pernyataan terakhir si Ibu tadi sebagai bahan evaluasi, muhasabah, kontemplasi, atau filosofi apapun itulah untuk keluarga inti kita masing-masing, ya!


Your reaction?
LOL LOL
1
LOL
OMG OMG
0
OMG
LOVE LOVE
3
LOVE
!@#$@ !@#$@
0
!@#$@
WTF WTF
0
WTF
ANGRY ANGRY
1
ANGRY
CUTE CUTE
1
CUTE
HAPPY HAPPY
0
HAPPY
DAMN DAMN
0
DAMN

Seorang joting (jomblo berkepentingan) pecinta mati bishoujo, musik disko, otomotif roda empat, dan kuliner ayam apapun kecuali ayam kampus

Leave a Reply

log in

reset password

Back to
log in