Terhindar dari Gegar Budaya dengan Saling Memahami


Ada salah satu ketakutan di dalam diri ketika hendak berbicara dengan orang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Apabila memang harus diajak berkenalan demi kepentingan tertentu, maka saya harus bersiaga dalam manajemen impresi. Maksudnya, saya harus teguh mempraktikkan penyampaian mengenai nama, asal diri, hingga itikad baik untuk berkenalan dan berdiskusi lebih lanjut kepadanya.

Masalah dapat selesai apabila orang yang baru saja diajak berkenalan ini paham akan itikad diri ini. Malah, tidak jarang bahwa kenalan baru ini di masa depan suatu saat akan menjadi kolega hingga sahabat baik yang tak tergantikan. Namun, memang dapat menjadi masalah baru apabila orang tersebut nyatanya tidak dapat diajak bekerja sama dengan diri ini. Dengan demikian, yang harus dilakukan ialah menjadikan orang tersebut sebagai teman biasa. Atau juga, menjadikan orang itu sebagai orang lain – bukan musuh tentunya, karena untuk apa hidup ini memiliki musuh?

Masalah tentu saja selesai apabila persoalan kultural di dalamnya, khususnya berbahasa alias saling penyampaian pesan satu sama lainnya disepadankan. Artinya, apabila orang yang tidak saya kenal tersebut sanggup menyamakan bahasanya dengan diri ini. Misalnya, saya dan dia sama-sama dapat berbahasa Indonesia. Namun demikian, bagaimana ketika kita suatu saat dihadapi dengan orang lain yang belum tentu dapat berbahasa yang sama secara fasih alias masih belajar… Belum percaya diri sepenuhnya? Inilah yang akan saya bagikan kepada pembaca. Ada pengalaman diri ini yang belakangan terjadi: berdiskusi dengan salah seorang Professor Bule dari Amerika!

Menemukan Inklusi Sosial dalam Komunitas Virtual

Waktu itu pada tanggal 25-26 Oktober 2017, saya menghadiri konferensi internasional yang diadakan oleh Universitas Indonesia. Konferensi tersebut memuat diskusi ilmiah mengenai masalah sosial budaya kontemporer dengan tema besar bernama inklusi sosial. Selain menghadirinya sebagai presenter untuk membuktikan bahwa komunitas virtual dapat menciptakan suatu inklusi sosial, diri ini juga hadir sebagai murid. Diri ini menjadi murid yang penasaran mencari hubungan antara dunia internet dengan kehidupan sosial budaya masa kini.

Untuk menyelesaikan misi kedua itu, nyatanya saya harus berani bertanya dalam kuliah umum di hari pertama. Ada tiga profesor pemberi kuliah umum yang berasal dari tiga bangsa yang berbeda-beda: profesor dari Indonesia membahas revisi teoritis soal inklusi sosial, profesor dari Amerika membahas dunia maya dan tantangannya terhadap inklusi sosial, dan profesor dari Jepang membahas masalah eksklusi sosial di salah satu desa pinggiran kota di Jepang.

Tentu saja, agar nyambung dengan diskusi yang saya inginkan, saya harus bertanya kepada Profesor Amerika itu.

“The one of the nowadays challenges is hoax issue. As I learnt from before, hoax is even being intended to further the flow of capitalism. My question is… How that… How come… That will be..?”, tanya saya dengan Bahasa Inggris yang perlu dibenerin lagi. Uniknya, Profesor Amerika menjawab dengan antusias, “Thank you for the good question! But we may ask again critically: how that hoax would ensure the flow of capitalism? The fact is, hoax doesn’t always ensure the gain. Hoax may gain the capital such as money, but it would be harm the sociocultural contexts, for sure. If the sociocultural context has the zero point, then it won’t have the money flows. That is, the very flaw of hoax, I would say.”. Jadi, ada yang berkata bahwa hoax digunakan untuk mendiktekan keuntungan. Ada berbagai pihak tersembunyi yang mendapatkan keuntungan dari ‘transaksi’ tersebut. Namun demikian, Profesor Amerika mengingatkan bahwa hoax akan terpelihara asalkan ada orang-orang yang mau membicarakannya. Jadi, kita dapat menghentikan hoax dengan menghentikan pembicaraan hoax tersebut. Karena tidak ada yang membicarakannya, maka hoax tidak dapat dilanggengkan menjadi berita panas sehingga tidak dapat mendiktekan keuntungan apapun.

Lantas… Terbesit tiga pertanyaan personal yang (tidak) penting: mengapa Profesor Amerika jauh-jauh datang kemari untuk menyampaikan ilmunya? Lebih personal lagi, mengapa Profesor Amerika ingin menyampaikan ilmunya kepada diri ini? Tentunya, pertanyaan inilah yang paling personal: mengapa lantas kami berdua dapat saling mengerti satu sama lainnya, walaupun sudah pasti ada batas yang disebut sebagai ‘bahasa’? Iya, walaupun saya memang berhasil berdiskusi di dalam Bahasa Inggris, namun kan Bahasa Inggris saya tidak begitu bagus?

Pelajaran dari Anime Kiniro Mosaic

Ternyata, ada lho anime bishoujo (lagi!) yang mengajarkan tentang bagaimana caranya agar kita dapat mengantisipasi gegar budaya. Ada dua gadis imut yang mewakilkan adegan tentang tips itu. Si imut pertama yang memberi tahu ialah Karen. Karen memberitahu kepada Alice tentang bagaimana ia membangun komunikasinya dengan orang asing, khususnya Orang Jepang. Adegan yang mengandung ‘gula berlebihan’ (saking manisnya) tersebut berjalan seperti ini,

 Gambar 1: Kata Karen, “Mungkin kita tidak berbicara (secara pasti, sepenuhnya) dalam satu bahasa yang sama…” (sumber: dokumen pribadi)

Gambar 2: Lanjutnya Karen, “… Namun kita dapat saling menyampaikan dan menerima pesan satu sama lainnya…” (sumber: dokumen pribadi)

Gambar 3: Masih Karen yang berbicara, namun Alice mulai menerima, “Selama kita terus mencoba untuk menyimak nurani lawan bicara baik-baik.” (Sumber: dokumen pribadi)

 

Inilah yang dimaksud dengan komunikasi sejati untuk mengantisipasi gegar budaya. Pendahuluan yang telah ditulis di awal tadi nyatanya langsung sirna karena adegan anime tersebut. Unik sekali, lantaran anime bishoujo ternyata tidak hanya mempelihatkan keimutan Karen juga Alice dan kawan-kawannya, tetapi juga mengajarkan bagaimana esensi dari berkomunikasi itu.

Ada tiga esensi dari komunikasi sesuai yang diajarkan oleh Kiniro Mosaic. Pertama, sepadankan komunikasi dengan menyamakan bahasa. Karena, saling lawan bicara harus sama-sama mengerti satu bahasa yang digunakan. Kedua, langgengkan komunikasi dengan terus latihan dalam satu bahasa yang sama. Jujur, diri ini masih stag di dalam langkah kedua ini. Tentu saja, diri ini harus terus latihan membangun bagaimana gaya bahasa yang terbaik untuk dapat berkomunikasi dengan Profesor Amerika juga bakal lawan bicara dari berbagai pihak internasional lainnya suatu saat. Terakhir – sambil terus mengimprovisasi esensi kedua tadi – lanjutkan komunikasi dengan saling memahami nurani lawan bicara masing-masing. Pahami terus apa yang dimaksud dengan itikad, pemikiran, hingga perasaannya satu sama lain. Simpulannya, esensi terakhir ini yang menjadi sebab musabab mengapa diskusi saya dengan Profesor Amerika dapat terus langgeng: Profesor Amerika memiliki nurani untuk melanggengkan ilmunya, sedangkan diri ini senantiasa haus untuk menerima ilmunya. Yang penting itu! Dengan demikian, maka komunikasi sejati untuk mengantisipasi gegar budaya dapat dicanangkan. Semoga kita dapat mengantisipasi hal tersebut di manapun kita berada ya, wahai pembaca.

Your reaction?
LOL LOL
0
LOL
OMG OMG
0
OMG
LOVE LOVE
0
LOVE
!@#$@ !@#$@
0
!@#$@
WTF WTF
0
WTF
ANGRY ANGRY
0
ANGRY
CUTE CUTE
0
CUTE
HAPPY HAPPY
0
HAPPY
DAMN DAMN
0
DAMN

Seorang joting (jomblo berkepentingan) pecinta mati bishoujo, musik disko, otomotif roda empat, dan kuliner ayam apapun kecuali ayam kampus

Leave a Reply

log in

reset password

Back to
log in