Ojek Online: Antara Peluang, Harapan, dan Cibiran


Beberapa waktu yang lalu netizen sempat dihebohkan dengan pernyataan salah satu capres yang dianggap “mencibir” profesi tukang ojek online. Seperti biasa pro kontra pun terjadi, ruwet dan gaduh. Alih-alih ikut dalam kegaduhan tersebut, lebih baik kita melihat masalah tersebut dengan cara yang berbeda. Khususnya ojek online yang kini memberikan peluang dan harapan, meski tak jarang dihujani cibiran.

peluang baru dengan ojek online. suara.com

Pemicu Geliat Ekonomi

Berawal dari layanan aplikasi untuk mengantar penumpang, ojek online telah menjelma menjadi super apps. Karena tak hanya melayani jasa antar penumpang, ia menjadi perusahaan aplikasi on-demand. Salah satu perusahaan ini adalah Gojek. Tak hanya transportasi dengan menggunakan motor, aplikasi ojek online juga menjelma menjadi taksi online. Keberadaannya mendisrupsi transportasi konvensional, khususnya taksi. Pada awal kemunculannya ojek online motor juga harus berhadapan dengan ojek pangkalan yang merasa rezekinya direbut.

Kini, hampir semua kebutuhan sehari-hari bisa dilayani oleh aplikasi ini. Super apps ini memang benar-benar menunjukkan superioritasnya. Ia masuk di semua lini kehidupan manusia modern. Mulai dari kebutuhan pokok seperti makan, yang bisa dipenuhi dengan go-food. Transportasi dengan go-ride, dan transaksi dengan go-pay, pembayaran beragam tagihan  dengan go-bills. Tak berhenti layanan kebutuhan, pleasure dan entertainment juga dilayani oleh layanan super apps karya anak bangsa melalui go-glam, go-massage, go-tix. Tentu mereka tidak hanya berhenti di sini dan terus melakukan inovasi.

Kontribusi super apps ini pada perekenomian nasional mencapai Rp 9,9 triliun per tahun. Tentu jumlah ini masih sangat mungkin akan meningkat. Yang paling terlihat adalah layanan go-ride. Sudah berapa banyak uang yang dihasilkan oleh para tukangojek online ini. Ojek online kini menjadi profesi baru yang menjanjikan.  

Kisah Mpok Yoyo dan Abang Gojek

Tidak berhenti sampai di situ, dengan keberadaan super apps ini, banyak UMKM kuliner yang terbantu pemasarannya. Jika orang-orang menganggap bahwa layanan go-food hanya mencari untung dengan menyasar pemain kuliner kelas berat, seperti franchise ayam dari luar negeri, maka mereka salah besar. Banyak pedagang-pedagang kecil yang terbantu dengan adanya layanan go-food. Salah satunya adalah Mpok Yoyo.

Mpok Yoyo adalah seorang pedagang nasi uduk yang menggunakan layanan go-food untuk layanan pemasaran. Ia berjualan di sekitaran Margonda, tepatnya di sebuah gang belakang Abuba steak. Awalnya saya mengira ia tidak niat berjualan, karena terkesan tidak rutin jualannya. Sehari jualan, dua hari tidak. Pada saat ia buka sayapun membeli nasi uduknya. Keramahan dan kehangatan mpok Yoyo semakin menambah nikmatnya nasi uduk buatannya. Saya pun bertanya ia tak berjualan hingga dua hari. Ia menjelaskan bahwa dirinya kelelahan karena permintaan nasi uduknya meningkat drastis, lantaran ia menggunakan layanan go-food. Mpok Yoyo menunjukkan proses pemesanan melalui smartphone. Anak perempuan mpok Yoyo terlihat terus memantau sembari ikut menyiapkan pesanan. Tak lama kemudian, abang gojek pun mulai datang dan pergi untuk mengambil pesanan. 

Kisah ini hanya contoh kecil yang nyata peran super apps dalam perekonomian. Saya yakin, pasti banyak Mpok Yoyo – Mpok Yoyo lain yang merasakan manfaat layanan pengantar makanan. Kini, image mpok Yoyo sebagai pedagang nasi uduk sudah terbangun di mata pelanggan setia. Meski warungnya kecil dan tidak berada di dalam mall, pesanan terus saja berdatangan.

“Cibiran” yang Perlu Direnungkan

Mari kita kembali membahas cibiran yang didapat tukang ojek. Bila kita sedikit lebih dewasa menyikapinya, apa yang disampaikan bukanlah cibiran melainkan bahan untuk introspeksi bagi kita semua. Ya kita semua, bukan hanya para capres, ataupun pemerintah saat ini. Karena sulitnya mendapat pekerjaan bukan hanya masalah yang terjadi dalam lima tahun ini. Ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Jika masalahnya kurangnya pendidikan dan ketrampilan, maka harusnya pekerjaan sudah lebih mudah didapat. Namun fakta berkata lain. Pekerjaan masih saja sulit bagi mereka yang sudah mendapatkan pendidikan.

Semua stakeholder harus bersatu padu untuk memikirkan cara mengatasi masalah ini. Mulai dari hulu yakni sektor pendidikan, hingga sektor hilir, yakni ketenagakerjaan. Faktanya memang selama ini kurikulum di sektor pendidikan selalu terlunta-lunta mengikuti perkembangan pasar tenaga kerja. Ditambah lagi, ketersediaan sektor tersebut tidak benar-benar dihitung secara cermat. Buktinya 63% orang Indonesia bekerja tidak sesuai dengan jurusannya. Ini adalah PR besar yang harus diselesaikan. Harus ada kebijakan yang berkelanjutan, karena masalah ini tidak mungkin hanya dalam lima tahun.

Gojek dan Harapan Baru

Alih-alih berpangku tangan dan mengutuk keadaan, Nadiem Makarim bersama super apps Gojek justru menciptakan peluang baru. Tentu, ia bukan superman, ide yang telah diwujudkannya lah yang super. Tidak bisa dipungkiri, gojek telah mengurangi jumlah pengangguran di semua lapisan. Tak hanya kesempatan mendapatkan pekerjaan, kesempatan untuk mulai usaha khususnya kuliner juga semakin terbuka lebar.

Kini, inovasi apalagi yang akan ditelurkan? Terobosan macam apa yang akan dilahirkan? Sektor mana yang akan terbantu? Akankah inovasi tersebut akan ditentang, dicibir,atau dilawan? Mungkinkan hal itu terjadi? Semua terserah pada kita. Mau berpartisipasi dalam inovasi atau justru melawan raksasan super apps karya anak bangsa ini. Bukannya meremehkan, perlawanan pada sang super apps selalu berhasil dinetralkan. Kompetitor pun banyak yang sengaja dinanabobokan dengan akuisisi. Menemukan model dan ruang bisnis baru adalah hal yang memungkinkan daripada melawan gojek.


Disclaimer: Tulisan hanya bersifat opini pribadi. Tidak ada afiliasi apapun dengan perusahaan Gojek.

Your reaction?
LOL LOL
1
LOL
OMG OMG
1
OMG
LOVE LOVE
2
LOVE
!@#$@ !@#$@
0
!@#$@
WTF WTF
0
WTF
ANGRY ANGRY
0
ANGRY
CUTE CUTE
0
CUTE
HAPPY HAPPY
0
HAPPY
DAMN DAMN
1
DAMN

Pemikir, perenung, pemerhati alam semesta, manusia dan kebudayaan

Comments 1

Leave a Reply

log in

reset password

Back to
log in