Istilah Asing dalam Bahasa Indonesia: Sebuah Ancaman yang Dibutuhkan


Dewasa ini, kita pasti sering menemui istilah asing di tengah-tengah bahasa Indonesia. Istilah asing sering kita temui baik dalam ungkapan lisan maupun tulisan. Banyak pihak yang menganggap hal ini sebagai ancaman terhadap eksistensi bahasa Indonesia. Padahal munculnya istilah asing tidak semata-mata menghilangkan eksistensi bahasa Indonesia, malah justru memperkaya dan mengembangkannya. Bagaimana hal ini bisa terjadi dan mengapa?

Sumber: 1.cak.com dikutip dari Badan Bahasa Kemendikbud

Kambing Hitam Globalisasi

Globalisasi sering dianggap sebagai kambing hitam akibat memudarnya eksistensi bahasa Indonesia. Kehadiran istilah asing merupakan buah globalisasi yang digambarkan sedimikian jahat. Alih-alih mencari tau tentang asal-usul istilah asing yang masuk dalam bahasa Indonesia, sebagian besar orang justru antipati. Atas nama nasionalisme, istilah asing dengan serta merta dipersalahkan.

Isitilah asing muncul bukan tanpa alasan. Salah satu alasan yang sering muncul adalah belum tersedianya istilah baku yang dapat mewakili fenomena baru tersebut. Meskipun pada akhirnya para ahli bahasa sudah menetapkan istilah baku untuk fenomena tersebut, tetap saja istilah yang populer adalah istilah dari bahasa asing. Dalam penulisan biasanya istilah asing menggunakan format huruf miring atau italic.

Perubahan adalah Keniscayaan

Penggunaan istilah asing dalam percakapan sudah jamak dilakukan. Terlepas dari baik buruknya, faktanya istilah asing cenderung lebih populer daripada istilah bahasa Indonesia. Istilah asing seringkali lebih dulu populer daripada istilah bahasa Indonesia. Hal ini membuat kebanyakan orang enggan menggunakan istilah bahasa Indonesia. Kesan aneh pun muncul saat mereka mengujarkannya. Contoh saja “gawai” (gadget), “unduh” (download), “unggah” (upload), hingga “peramban” (browser). Menggunakan istilah tersebut dalam percakapan akan sangat memberatkan.

Cara yang paling memungkinkan untuk menerapkan kosakata/istilah bahasa Indonesia adalah dalam tulisan. Itu pun tulisan yang bernuansa formal, akademis, dan berbau jurnalistik. Penggunaan istilah asing masih menjadi favorit dikalangan blogger, penulis populer, dan media daring (online). Mereka merasa dapat lebih merangkul dan menyentuh pembaca dengan istilah-istilah tersebut.

Meskipun menjaga warisan “bahasa Indonesia” adalah tugas semua orang, tetapi penerapannya tidak bisa menyeluruh. Banyak penulis, blogger, atau creative writer seringkali takut pesannya tidak sampai ke pembaca karena istilah yang terlalu formal dan membosankan. Khususnya untuk tulisan di media digital. Tanpa penggunaan istilah asing, konten akan terasa hampa, membosankan dan terasa jauh dengan pembaca. Oleh karena itu tidak berlebihan jika penggunaan istilah asing dianggap sebagai ancaman yang dibutuhkan.

Istilah Asing, Benarkah Sebuah Ancaman?

Dalam dunia kepenulisan populer, pembaca bisa disamakan dengan konsumen. Penulis pun dituntut untuk terus mengikuti selera dan kebiasaan konsumen agar bacaannya terus diminati. Maka dari itu, penggunaan istilah asing pun bisa dimaklumi. Pertanyaannya kembali lagi ke penulis, sejauh mana ia mau tetap idealis menggunakan istilah bahasa Indonesia dalam tiap tulisannya. Tentu jika si penulis adalah seorang akademisi, jurnalis, atau institusi formal lain harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Blogger, penulis lepas, creative writer bisa memilih sendiri mau menjadi tetap idealis atau mengikuti selera pasar.

Pada akhirnya, kita tidak perlu takut bahwa bahasa Indonesia akan terancam dengan kehadiran istilah-istilah asing. Selama bahasa Indonesia itu terus ditulis dan didokumentasikan secara formal, maka bahasa Indonesia akan tetap abadi. Perubahan memang tidak bisa dipungkiri, apalagi dalam kehidupan percakapan sehari-hari. Penggunaan istilah asing sah-sah saja, asalkan kita semua punya kesadaran bahwa yang kita pakai adalah istilah asing. Kita juga harus rajin-rajin berkunjung ke laman kbbi dan membuka buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), agar dapat terus memeriksa istilah bahasa Indonesia. Dengan cara tersebut, pusaka bernama “bahasa Indonesia” akan tetap terjaga.

 

 

 

 

Your reaction?
LOL LOL
0
LOL
OMG OMG
0
OMG
LOVE LOVE
0
LOVE
!@#$@ !@#$@
0
!@#$@
WTF WTF
0
WTF
ANGRY ANGRY
0
ANGRY
CUTE CUTE
1
CUTE
HAPPY HAPPY
0
HAPPY
DAMN DAMN
0
DAMN

Pemikir, perenung, pemerhati alam semesta, manusia dan kebudayaan

Leave a Reply

log in

reset password

Back to
log in